Tampilkan postingan dengan label moslem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moslem. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Tuhan berkata : Sak Karepmu

Susah atau senang , enak dan tidak enak hanyalah perasaan,
perasaan itu kita sendiri yang membuatnya,
jadi kalau mau susah atau senang tergantung pilihan kita sendiri

Contoh gampang:
jika dua orang dihadapkan dengan sebatang rokok, satu pecandu rokok, dan satu lagi anti asap rokok.
Tentunya kita akan memperoleh jawaban yang berbeda ketika kita menanyakan apa rasa rokok itu?

Bendanya hanya satu, tapi jawabannya tentang rasa nya bisa berbeda, artinya tergantung dari yang menjawab.

Begitu juga menjalani kehidupan, Sedih, Susah, Sulit, Senang.... itu semua tergantungm bagaimana kita menyikapi apa yang kita hadapi, sama persiisss dengan bagaimana menyikapi "rokok" tadi

So mending kita berpikir posistif buat semuanya enak, semuanya mudah, semuanya kita bisa lakukan dan hadapi tentunya tidak lepas dari kekuatan dari yang Maha segalanya

Kalau anda tidak percaya bahwa Allah swt sudah mempercayakan kepada kita atas apa yang kita inginkan
(dalam bahasa suka suka saya "sak karepmu" )
dibawah ini ada kiriman dari teman dengan bahasa yang lebih indah :

"Berfikir positif baik sangka kepada Allah sangat bermanfaat bagi hati dan  fikiran. Sangat berguna bagi perubahan hidup kita menjadi lebih baik.

Fikirkan yang terbaik yang ingin anda capai , bayangkan hal paling baik yg ingin terwujud
Yakinlah bahwa Allah yang maha baik akan bimbing langkah anda ke arah tersebut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : «قَالَ اللهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِي، إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ» [أخرجه الإمام أحمد وابن حبان].

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda; Allah swt berfirman; Aku mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. Jika ia bersangka baik maka baginya (kebaikan) dan jika ia bersangka buruk maka baginya (keburukan) [HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban]

-------
Saya suka reference diatas,
Dan saya yakin referensi diatas menjadi inspirasi orang orang top dan keren mengatakan :

YOU ARE WHAT YOU THINK

atau

KEKUATAN PIKIRAN

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gambar copast dari : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeTFEpv7SZyCYZB_9UHXOMC17fxy2y9kTwSro669ea3pFJgfa2CXYyeKMaavhYtNe3suwq-l3F9EOPU1UHogAdJM51ajTG6t_17XhKwWwyrvZoLShV0t77MscggpJjypf2NOi_HbcZvFo/s1600/Kartun_007.jpg

Minggu, 25 Desember 2011

download software zakat


http://tunasmelati.blogdetik.com/2011/05/27/zakat-profesi/#respond
Di blog ini ada link untuk download software perhitungan zakat
Banyak artikel bagus untuk dibaca

Panduan Zakat Praktis - Zakat Profesi


https://www.dompetdhuafa.org/page_campaign/38/zakat_profesi

Jika kita perhatikan saat ini, hampir setiap orang yang memegang handphone akan mengeluarkan uang minimal Rp. 50.000 untuk membeli pulsa dalam setiap bulannya

Asumsi pemilik handphone adalah pegawai dengan penghasilan minimum (UMP) misalnya Rp. 1.200.000, maka uang Rp.50.000, sudah lebih dari jumlah yang harus dibayarkan untuk zakat profesi
jadi sebenarnya jika sedikit "dipaksakan", setiap karyawan akan mampu membayar zakat profesi

Bayangkan jika kemudian setiap kantor, mengumpulkan zakat profesi
Jika satu kantor ada 50 karyawan dengan penghasilan UMP, maka setiap bulan akan diperoleh sekitar Rp. 1.500.000 setiap bulan
Ada berapa kantor di suatu daerah bahkan di negara kita, jika dikmpulkan, tentunya ini akan menjadi salah satu cara untuk mengatasi permasalahan kemiskinan dinegara kita

Subhanallah, ajaran islam sungguh luar biasa, berbagai permasalahan sebenarnya sudah diberikan solusinya.

******** self reminder biar gak lupa bayar zakat *******

tambahan dari eramuslim.com

Perbedaan Pendapat Ulama

Para ulama kontemporer dalam menentukan tarif zakat profesi juga berbeda, pendapat yang masyhur adalah pendapat Muhammad Abu Zahrah, Abdurahman Hasan, Abdul Wahhab Khollaf, Yusuf Qaradhawi, Syauqy Shahatah dan yang lainnya sepakat bahwa tarif zakat penghasilan profesi adalah 2,5%.
Menurut KH Didin Hafiduddin Zakat penghasilan bulanan ( gaji ) dianalogikakan dengan zakat pertanian dikeluarkan saat mendapatkan panen/hasil gajian. Jika seorang muslim memperoleh pendapatan dari hasil gaji atau profesi tertentu, maka dia boleh mengeluarkan zakatnya langsung 2.5% pada saat penerimaan.
Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz dan ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul (satu tahun) mengeluarkan zakat profesi, tetapi zakat profesi dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka meng-qiyas-kan dengan zakat pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul: lama pengendapan harta).
Dalil atas wajibnya zakat profesi/penghasilan gajian adalah keumuman lafadz, Allah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah (2): 267) “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat bahagian”. (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 19)

Jenis Zakat Profesi

Zakat profesi oleh para ulama kontemporer dibedakan, yaitu:
Pertama, berdasarkan fatwa MUI 2003 tentang zakat profesi setelah diperhitungkan selama satu tahun dan ditunaikan setahun sekali atau boleh juga ditunaikan setiap bulan untuk tidak memberatkan. Model bentuk harta yang diterima ini sebagai penghasilan berupa uang, sehingga bentuk harta ini di-qiyas-kan dalam zakat harta (simpanan/ kekayaan).
Nisabnya adalah jika pendapatan satu tahun lebih dari senilai 85gr emas (harga emas sekarang @se-gram Rp. 300.000) dan zakatnya dikeluarkan setahun sekali sebesar 2,5% setelah dikurangi kebutuhan pokok.
Contohnya: minimal zakat profesi yaitu @se-gram Rp. 300.000 x 85 (gram) = 25.500.000. Adapun penghasilan total yang diterima oleh pak Nasir Rp. 30.000.000 (gaji perbulan Rp. 2.500.000) harta ini sudah melebihi nishab dan wajib zakat Rp. 30.000.000 x 2,5 %= sebesar Rp. 750.000,- (pertahun) Rp. 62.500 (perbulan)
Kedua, dikeluarkan langsung saat menerima pendapatan ini dianalogikan pada zakat tanaman. Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat dianalogikakan ke dalam zakat pertanian.
Jika ini yang diikuti, maka besar nisabnya adalah senilai 653 kg gabah kering giling setara dengan 520 Kg beras dan dikeluarkan setiap menerima penghasilan/gaji sebesar 2,5% tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok (seperti petani ketika mengeluarkan zakat hasil panennya).
Contoh: Pemasukan gaji pak Nasir Rp. 2.300.000/bulan, nishab (520 kg beras, @Rp. 4000/kg = Rp. 2.080.000). Dengan demikian maka pak Nasir wajib zakat Rp. 2.300.000 x 2,5% = sebesar Rp. 57.500,-
Alhasil, jika Bapak Nasir memiliki penghasilan gaji perbulan: Rp 3.000.000,- asumsi nishab dengan 520 kg beras x @ Rp. 4000 = Rp 2.080.000, Berarti Bapak sudah melebihi nishab dan wajib zakat sebesar Rp. 3.000.000 x 2,5 % =Rp. 75.000,- (wajib zakat yang dikeluarkan per bulan) atau boleh juga menunaikannya sebesar Rp 900.000 per tahun)

Kamis, 16 Juni 2011

10 Target


Rating:★★★★
Category:Other
Dapat kiriman dari Ustadz Muslim Gunawan (10 Juni 2011)


Karakter yang diinginkan 
1.akidah bersih nggak ada syiriknya,
2.ibadah lurus sesuai sunnah,
3.mampu penghidupan dan berpenghasilan,
4.bermanfaat untuk orang lain, nggak sibuk ngurusin diri sendiri,
5.teratur dalam waktunya nggak kebanyakan killing time,
6.teratur dalam urusan pribadi,rumah dan kerjaan
7.fisik kuat/sehat nggak tebecean (apa nih ya),
8.bermoral jangan lupa banyak banyak  senyum walaupun tengah bulan,
9.ber wawasan dan suka info info baru
10 self controler nggak suka yg berbau kemaksiatan....

nah, tinggal membuat program aja nih, gimana bisa mencapai 10 target diatas
meski sebenarnya itu bisa dijadikan target juga buat seluruh umat muslim

Senin, 14 Maret 2011

Islam Logika

Aku yang dulu sempat aktif disebuah pendidikan non formal keagamaan (bukan islam) dan langganan menjadi pemimpin doa, memilih kembali untuk yakin dalam Islam diawali dari pertanyaan ibu "kok kamu sekarang beda le?" (dalam arti negative)

Setelah merenung sejenak, aku menyadari bahwa memang terjadi perubahan, dan aku juga nggak tahu apa penyebabnya....

Trigger yang kedua, mempelajari Islam itu mudah, dan aku yang begitu suka dengan bermain logika, semua bisa dinalar.

Aku yakin Tuhan itu satu, it a simple thing, bayangkan apa jadinya jika dalam satu rumah tangga ada dua kepala keluarga, apalagi lebih dari dua?
Tentang Nabi Muhammad saw, tidak mungkin Allah swt menyampaikan kepada semua makhluk yang ada di bumi ini tentang apa saja, tentu ada penyampai pesan, dan Muhammad saw lah yang terpilih

Sholat, selalu harus ada cara untuk menyampaikan pesan kepada Dia yang maha segalanya, rasakan setiap gerakan dalam sholat.. pasti ada maknanya
aku tidak terlalu peduli dengan harus melafalkan niat atau tidak, harus menggunakan qunut atau tidak, pokoknya lakukan saja, intinya Allah tahu kok apa yang kita lakukan

Puasa, ibaratkan sebuah balapan mobil, disana ada pit stop, itu pemahaman paling simple
atau merasakan apa yang orang lain rasakan, mereka yang tak seberuntung kita, tentu itu membuat kita lebih "manusiawi" dan punya rasa belas kasihan, tidak sombong de el el

Zakat, pemahaman yang paling mudah, apa salahnya sih berbagi, negara aja pakai pajak kok

Ibadah haji , tidak ada yang memaksa, kalau mampu, ini sama halnya dengan orang pulang kampung, tapi pulang kekampungnya Allah, kekampungnya mereka yang telah mengajarkan kita... sama makna  bahkan lebih dari sekedar pulang kampung

Karena alasan diatas, hanya itu yang kupelajari, pelajaran disekolah yang alakadarnya.

Saking Logikanya, bahkan aku tak begitu respek dengan meminta doa kepada para orang yang lebih soleh, kiai para pemuka agama, karena aku berpikir, untuk meminta kepada Allah, kenapa harus melalui perantara, toh kita bisa kok minta langsung.

Da....n kebetulan sekali, aku selalu percaya , tidak ada doa yang tak dikabulkan, yang ada juga ditunda, atau diganti yang lebih baik buat kita.

membaca Alqur'an bukanlah hal yang utama buatku, tapi mengetahui makna dan isi alqur'an agar kita bisa mengamalkannya... itu lebih utama
Mendengarkan tausiyah hanya yang "enak" buat dilakukan, "cocok" dengan apa yang kupikirkan.
Mempelajari agama lewat buku, internet, dan tanpa sadar, pasti memilih yang sesuai logika-ku

Sekian lama keyakinan seperti itu melekat diotakku, layaknya katak dalam tempurung
Semakin banyak ujian dari Allah, semakin banyak cobaan yang datang, sampai pada titik dimana hampir tak mampu lagi melewatinya, aku tetap yakin, Allah sedang menunjukkan kasih sayangNya padaku, 
Akhirnya aku menyadari ini sebagai sebuah peringatan, bahwa keyakinanku selama ini salah, Islam bukan seperti itu, apa yang kupahami belum ada apa apanya, jika diukur dengan ukuran manusia yang paling kecil, maka apa yang kupahami tentang Islam lebih kecil dari ukuran itu
Aku harus lebih banyak belajar.

Seorang ustadzah, yang biasa berdiskusi denganku berkali kali mengingatkan, iman dulu, yakinkan diri bahwa kita benar benar yakin kepada Allah swt ,

Tapi saat itu , aku masih yakin bahwa kuncinya adalah aku harus melakukan semuanya dengan benar, sholat , puasa, zakat.......

Titik Balik
Sungguh, Allah swt tetap tidak meninggalkanku, ketika seorang kawan memberikan jalan untuk bertemu dengan seorang ustadz,
beliau menceritakan :
bagaimana wahyu Allah diturunkan dari mula,
ayat ayatnya begitu pendek, isinya, menjelaskan keesaan Allah, mengajarkan tentang keyakinan akan Allah swt. (ciri ciri surat makiyah)

Masih dengan logika, dari situ terlihat jelas, bahwa Allah mengajarkan,
yang pertama kali dilakukan adalah Keyakinan, Kecintaan pada Allah swt

ibaratkan seorang yang sedang kasmaran, apapun akan dilakukan untuk yang dicintainya

Bukankah itu juga berlaku dalam kehidupan dunia, kalau kita tulus mencintai pasangan kita, akankah ada perselingkuhan, pertengkaran?
Kalau kita mencintai keluarga dan saudara saudara kita, akankah kita menyia nyiakan
Kalau kita mencintai rekan kerja kita, atasan kita, bawahan kita, tidak mungkinkah kita menjadi team work yang solid?

Satu hal lagi yang kuyakini saat ini, kita tidak bisa belajar sendiri,
harus ada pendamping, harus ada yang membimbing agar kita tidak salah arah
Sama seperti seorang yang masuk kesatu wilayah yang belum pernah didatangi
mungkin bisa menggunakan kompas, mungkin bisa menggunakan arahan dari cerita orang
TAPI ADA KEMUNGKINAN KITA AKAN TERSESAT
DAN ADA KEMUNGKINAN KITA AKAN SAMPAI KETUJUAN
Berbeda dengan ketika kita didampingi oleh seorang pemandu jalan
yang sudah berepengalaman dan mengenal daerah itu


Senin, 14 Februari 2011

Allah Mengampuni Segala Dosa Orang Yang Tidak Berbuat Syirik

http://balikpapankota.depag.go.id/news/news_item_hadits_arbain.asp?NewsID=76

Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata:
Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : haditsnya hasan shahih).

Minggu, 16 Januari 2011

Setelah anak itu lahir,langsung saya... cekik lehernya sampai... tewas

Rating:★★★★★
Category:Other
Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk".
 
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia Berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya."
"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa a.s. terkejut.
"Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
 
Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya... telah berzina.
"Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan,
 
"Dari perzinaan itu saya pun...lantas hamil. Setelah anak itu lahir,langsung saya... cekik lehernya sampai... tewas," ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.
 
Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik, "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.
 
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan.Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.
 
Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?"
 
"Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran."Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal.
 
Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina"
 
Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.
 
Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

(Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy)
 

Dalam hadis Nabi SAW disebutkan :
Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur�an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka�bah.
Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.

 
Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita penzina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

Jumat, 24 Desember 2010

Kepemimpinan Adalah Musibah

Rating:★★★★★
Category:Other



Pada suatu ketika Abu Bakar Siddik dibai’at menjadi khalifah. Abu Bakar berkomentar: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.” Para sahabat heran dan menanyakan maksud ucapannya: Mengapa engkau mengucapkan hal itu?”Abu Bakar menjawab: “Jabatan atau kepemimpinan itu adalah musibah, jika nanti saya tidak mampu mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.”


Rasulullah bersabda : “ Tiga kelompok yang do’anya tidak tertolak yaitu, orang yang berpuasa sampai berbuka, imam (pemimpin) yang adil, dan orang-orang yang teraniaya, Allah mengangkat do’a itu diatas awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit dan Tuhan berfirman : Demi Keagungan-Ku Aku betul-betul akan menolong walaupun sesudah waktu ini “. (HR.At-Tirmidzy dan Ibnu Majah.)


Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Maa’idah: 8).


Minggu, 21 November 2010

Ensiklopedi Al-Qur'an


http://qpedia.org/page/beranda

Website ini merupakan sebuah upaya serius untuk (lebih) mencintai Al-Qur'an. Kami melakukan berbagai eksperimen di website ini untuk lebih memahami isi kandungan Al-Qur'an:.

Halaman Eksperimen berisi penjelasan lebih lengkap mengenai berbagai eksperimen yang kami lakukan di website ini. Lihat juga Latar Belakang Website Cinta Al-Qur'an.

  • Kami memberanikan diri untuk men-stabilo kata kunci-kata kunci yang ada pada setiap ayat.  Dengan demikian website ini tampil beda dengan Al-Qur'an yang penuh warna. Untuk info lebih detail, klik saya
  • Kami menyusun Ensiklopedi Al-Qur'an yang berisi semua kata kunci yang terkandung dalam Al-Qur'an. Fungsi utama Ensiklopedi adalah merangkum ayat-ayat yang menjelaskan kata kunci. Kami tidak ingin terjebak pada waham kami sendiri mengenai makna sebuah kata kunci. Oleh karena itu, kami mengumpulkan semua ayat-ayat yang mengandung kata kunci dan kemudian kami mengambil kesimpulan mengenai makna kata kunci tersebut. Jika kami menjumpai Hadits Rasulullah yang relevan dengan makna sebuah kata kunci, maka hadits tersebut kami cantumkan pula.
  • Dalam setiap item di Ensiklopedi, terdapat pranala/link yang berisi keterkaitan kata kunci yang sedang dibahas dengan kata kunci lain yang berhubungan erat, pencarian dan index ayat, dan halaman-halaman lain yang kami anggap relevan.
  • Jika kami merasa perlu untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai sebuah kata kunci, maka kami menyusun satu atau lebih artikel. Pada bagian ini kami merasa lebih bebas dalam mengungkapkan opini/pendapat kami mengenai makna kata kunci. Pada bagian artikel ini pula, terdapat sub-topik Studi Teks, sebuah upaya untuk melakukan analisis tekstual terhadap Al-Qur'an.

Mohon disadari bahwa apa yang kami lakukan di website ini bukanlah hasil jadi, akan tetapi sebuah proses panjang yang (mungkin) tak kan pernah berakhir. Bagi sahabat yang tertarik untuk mengikuti perkembangan website ini, silakan lihat halaman Jurnal Website

Ngaji yuuk......

http://www.ruangmuslim.com/quran.html

Bagus nih...
Daripada menthelengi status FB , lebih bagus yang ini 

Sabtu, 06 November 2010

Tipu Daya Setan dan Macamnya | Majelis Virtual dot com

http://majelisvirtual.com/2010/06/23/tipu-daya-setan-dan-macamnya/
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” (QS. Al A’raf–11).

Dalam Alqur’an surat Al A’raf ayat 11- 18, Allah menggambarkan tentang tiga makhluk Allah, yakni Nabi Adam as, malaikat dan iblis. Mereka diadu kepandaian dan kecerdasannya, yang ternyata Nabi Adam lebih unggul.

Karenanya, malaikat dan iblis diperintahkan Allah untuk sujud menghormati kemenangan Nabi Adam, dan sujudlah malaikat. Namun iblis menolak dan membangkang tidak mau bersujud menghormati Nabi Adam. Iblis merasa lebih mulia, sebab diciptakan dari unsur api, sedangkan Nabi Adam dari unsur tanah. Sejak itulah iblis merasa dengki dan iri hati kepada Nabi Adam dan anak cucunya.
Dengan dasar kedengkian itu, iblis meminta izin kepada Allah untuk berusaha menyesatkan anak cucu Nabi Adam dari kebenaran, dan berusaha untuk menjerumuskan ke dalam api neraka agar menjadi temannya di neraka kelak.

Upaya menjerumuskan anak cucu Adam itu, iblis mengudang anak-anaknya untuk membagi tugas. Dalam ilmu tasawuf diterangkan, bahwa anak-anak iblis itu ada sembilan. Mereka diberi tugas yang berbeda-beda, diantaranya;

1.Iblis Khonzab; Bertugas menggoda orang-orang yang sedang melaksanakan shalat. Iblis ini berupaya menggoda agar orang yang melakukan shalat lupa daya ingatannya kepada Allah. Karenanya, banyak manusia sewaktu shalat lupa jika sedang sujud dan menyembah Allah. Mereka lebih ingat pada bisnis yang dikerjakan, lebih ingat pada kemewahan dunianya, hutangnya, dan sebagainya. Bahkan terkadang sampai lupa pada jumlah rokaat shalatnya.

2.Iblis Walhan; Tugasnya menggoda orang yang berwudhu, mandi atau sedang bersuci. Karena itu, orang yang sedang bersuci terkadang ragu, apakah sudah suci atau belum, sudah sah atau belum wudhunya maupun mandinya.

3.Iblis Zalanbur; Diberi tugas menggoda orang yang berjualan di pasar. Dengan tujuan agar orang yang berjualan ini mengobral pembicaraan kosong, memuji-muji barang dagangannya, melakukan penipuan, serta mengurangi takaran timbangan.

4.Iblis A’war; Setan ini bertugas memperdayai seorang laki-laki dan perempuan. Bila ada laki-laki sedang berduaan dengan perempuan ditempat yang sepi, setan A’war akan meniup kemaluan laki-laki tersebut, sedangkan yang perempuan ditiup pantatnya, hingga muncullah nafsu birahinya.

5.Iblis Tabrun;  Bertugas menggoda orang yang ditimpa musibah, supaya tidak tabah, dan tidak sabar dalam menghadapi ujian dari Allah. Karenanya, orang yang ditinggal mati suaminya terkadang hingga merobek-robek baju, dan menampar pipinya,  seakan tidak rela dengan musibah tersebut.

6.Iblis Wasnan; Setan ini bertugas untuk menggosok dan mengelus-elus kepala dan mata orang yang sedang tidur. Akibat godaan setan Wasnan ini, orang yang hendak bangun tidur merasa berat matanya, dan malas untuk bangun.

7.Iblis Dasim; Bertugas menggoda orang yang datang dari bepergian yang akan masuk rumah, dan tidak membaca salam atau doa. Setan Dasim ini juga mengadu domba suami istri, hingga menyebabkan terjadi pertengkaran dan terjadi keretakan dalam rumah tangganya. Bahkan, setan Dasim juga ikut berkumpul dengan suami istri yang sedang melakukan hubungan suami istri yang tidak membaca doa, termasuk juga ikut makan dan minum orang yang makan dan tidak mengawali dengan membaca doa.

8.Iblis Matwan; Setan ini bertugas untuk membesar-besarkan berita dan menambah-nambahi pembicaraan yang tidak sesuai dengan fakta dan kenyataannya.

9.Iblis Abyad;  Setan yang menggoda para nabi dan para wali, meski mereka maksum (terjaga) dari kesalahan dan kekeliruan. Namun para wali juga ada yang selamat dan ada yang sesat. Karena itu, pada zaman Syeh Abdul Qodir Jaelani ada sekitar 70 ribu wali yang tersesat karena godaan setan, dan pada masa Nabi Musa ada wali yang bernama Bal’am bin Bauro’ yang mati tersesat karena godaan setan.

Upaya menghidari dan menjaga dari godaan setan-setan tersebut, manusia dianjurkan memperbanyak berdoa kepada Allah SWT, bersujud dan mendekatkan diri kepada Allah agar dilindungi dari godaan setan.

sumber admin masjid jami

Sabtu, 16 Oktober 2010

KEISTIMEWAAN SHOLAT SUBUH

Rating:★★★★★
Category:Other
“Kami sedang duduk bersama Rasulullah, ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, ‘Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya. Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan sholat sebelum terbit matahari (Subuh) dan sholat sebelum terbenam matahari (Ashar). Maka lakukanlah.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Kamis, 09 September 2010

Khutbah Idul Fitri 1431 H: Untuk Misi Inilah Kita Ditarbiyah Selama Ramadhan | dakwatuna.com


http://www.dakwatuna.com/2010/khutbah-idul-fitri-1431-h-untuk-misi-inilah-kita-ditarbiyah-selama-ramadhan/
dakwatuna.com – Alhamdulillah, hari ini kita kembali merayakan Idul Fitri. Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, hari ini adalah hari yang menandakan berakhirnya bulan Ramadhan, berakhirnya hari-hari penuh berkah, berakhirnya tarbiyah Rabbaniyah kepada kita. Sebulan lamanya kita melakukan tarbiyah Ramadhan dengan menunaikan puasa, shalat, qiyam, tilawah, dzikir, doa, mengeluarkan zakat, infak dan shadaqah. Kita sangat berharap pada hari ini kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, orang yang dijanjikan oleh Allah mendapat kemenangan. Menang atas binalnya hawa nafsu kita, menang atas lemahnya godaan setan, menang atas semua kegelisahan yang mempermainkan perasaan kita, dan menang atas ketidakberdayaan dan kemalasan yang senantiasa ada dalam diri kita.

Sudah selayaknya pada hari ini kita semua bergembira. Berbahagia. Gembira karena telah berhasil menunaikan semua kewajiban ibadah Ramadhan. Bahagia karena kita menjadi manusia baru, kembali kepada fitrah. Insya Allah, kita semua bersih kembali seperti bayi yang baru lahir.

KEDUDUKAN SUAMI DAN ISTERI DALAM KELUARGA

Rating:★★★★★
Category:Other
Baru baca dari link di FB yang dishare temen (klik disini ),
subhanallah, bagus sekali, betapa Islam mengajarkan sebuah keadilan
dalam rumah tangga, menunjukkan tidak hanya suami yang berperan penting dalam sebuah keluarga, tetapi istri juga ikut memiliki peranan
tanggung jawab sesuai porsinya ,
emansipasi yang sebenarnya ada disini.....
Tks to Fitri Nurmala yang sudah berbagi informasi


KEDUDUKAN SUAMI DAN ISTERI DALAM KELUARGA
Islam menjadikan suami sebagai kepala keluarga. Allah Ta'ala berfirman:

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka" [an-Nisâ`/4:34]

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Alusi berkata: "Tugas mereka (para suami) adalah mengurus para isteri sebagaimana penguasa mengurus rakyat dengan perintah, larangan dan sebagainya".[1]

Sedangkan al-Qurthubi berkata: "قََوَّام adalah wazan فَعَّال –yang dipakai untuk mubalaghah (memberi makna lebih)- dari ) القيام على الشيءmengurusi sesuatu), dan menguasai sendiri (istibdad) urusannya, serta memiliki hak menentukan dalam menjaganya. Maka kedudukan suami dari isterinya ialah sampai pada batasan ini, yaitu mengurusnya, mendidiknya, berhak menahannya di rumah, melarangnya keluar, dan isteri wajib taat serta menerima perintahnya selama itu bukan maksiyat".[2]

HAK DAN TUGAS SUAMI DALAM RUMAH TANGGA
Islam telah menjelaskan hak masing-masing suami dan isteri. Syariat Islam memberikan suami hak yang besar atas isterinya. Sampai-sampai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ.

"Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan para isteri untuk sujud kepada para suami mereka, karena besarnya hak yang Allah berikan kepada para suami atas mereka" [HR Abu Dawud, 2142. At-Tirmidzi, 1192; dan Ibnu Majah 1925. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Irwa`ul-Ghalil, 7/54]

Demikianlah Islam mendudukkan, dan inilah jalan kebahagiaan. Sebuah keluarga akan bahagia jika memahami dan mengikuti petunjuk ini. Pasangan yang serasi ialah pasangan yang membangun hubungan mereka di atas pilar ini. Sebaliknya, emansipasi yang banyak diserukan banyak kalangan pada zaman ini hanyalah fatamorgana yang seakan indah di mata, namun pahit dirasa; karena menyelisihi sunnah yang telah diatur oleh Sang Pencipta.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas hak-hak suami secara panjang lebar. Namun kiranya perlu disebut beberapa contoh untuk menggambarkan besarnya hak tersebut, sehingga kita bisa mengukur hal-hal apa saja yang bisa dikategorikan sebagai KDRT.

Di antara hak suami, yaitu wajibnya isteri untuk menaatinya, termasuk ketika suami mengajak berhubungan. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

"Jika seorang suami mengajak isterinya berhubungan dan isteri menolak, lalu suami marah kepadanya sepanjang malam, para malaikat melaknat isteri itu sampai pagi" [HR al-Bukhâri, 5193, dan Muslim, 1436]

Hadits ini menunjukkan, menolak ajakan suami untuk berhubungan tanpa udzur merupakan dosa besar. Hingga seorang isteri tidak boleh berpuasa sunat saat suaminya ada, tanpa seijin suami. Juga tidak boleh mengijinkan orang lain masuk rumah tanpa ijin suami, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنَ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُه

"Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa[3], sedangkan suaminya hadir, kecuali dengan ijinnya. Dan ia tidak boleh mengijinkan orang lain masuk rumah suami tanpa ijin darinya. Dan jika ia menafkahkan sesuatu tanpa ada perintah dari suami, maka suami mendapat setengah pahalanya"[4] [HR al-Bukhâri, 5195, dan Muslim, 1026]

Tentunya hak-hak di atas tidak dapat diwujudkan tanpa tugas dan kewajiban setiap pasangan suami istri. Khususnya suami yang berkedudukan sebagai kepala rumah tangga yang memimpin lajunya bahtera rumah tangga. Di antara tugas terpenting suami, ialah membimbing istri dan keluarganya meraih keridhaan Allah dengan menerapkan syariat dalam semua aspek kehidupan keluarga. Membimbing dan mengarahkan sang istri untuk berjalan lurus di atas syari'at, meluruskan kesalahan dan nusyuz (sikap melanggar kewajiban) yang mungkin terjadi padanya
.
Tidak dapat dipungkiri, dalam kehidupan suatu rumah tangga terkadang muncul polemik dan problem yang muncul dari istri atau suami sendiri. Disinilah peran dan tugas suami dalam menanggulangi dan mengobatinya sehingga tidak membuat rumah tangganya pecah berantakan. Kedewasaan dan kepiawaian suami dalam menghadapinya memberikan pengaruh dalam kesinambungan dan keutuhan rumah tangga tersebut. Terkadang kelembutan menjadi solusi pemecahannya, dan terkadang juga diperlukan ketegasan maupun sedikit hukuman dalam menghilangkannya atau mengurangi bahaya yang mungkin muncul dari problem tersebut. Disinilah sang suami harus mengetahui batas kelembutan dan ketegasan dalam mengahadapi problem hubungan rumah tangga.

PENTINGNYA KETEGASAN SUAMI
Di atas telah dibahas tentang kedudukan suami dalam rumah tangga dan tugasnya. Tentunya hal seperti ini memerlukan ketegasan, agar kehidupan rumah tangga bisa berjalan dengan baik, sebagaimana seorang penguasa harus memiliki ketegasan dalam menjalankan roda pemerintahannya. Tanpa ketegasan, bisa jadi anggota keluarga akan meremehkan aturan-aturan dan norma dalam keluarga. Kehidupan rumah tangga menjadi tidak teratur, sehingga hilanglah hikmah yang dimaksudkan dari disyariatkannya kepemimpinan dalam keluarga. Keberadaan suami dan bapak menjadi tidak ada artinya. Dengan demikian, tidak terwujudkan tanggung jawab yang diamanatkan sebagaimana terdapat dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى أَهْلِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِى مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ - قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ - وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِى مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap dari kalian adalah penanggung jawab, dan masing-masing akan ditanya tentang tanggungjawabnya. Penguasa adalah penanggung jawab atas rakyatnya, dan akan ditanya tentangnya. Suami menjadi penanggung jawab dalam keluarganya, dan akan ditanya tentangnya. Isteri adalah penanggung jawab di rumah suaminya, dan akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Pembantu bertanggung jawab atas harta tuannya dan akan ditanya tentangnya," (Ibnu Umar berkata: dan saya kira Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga berkata): "Dan anak adalah penanggung jawab atas harta bapaknya dan akan ditanya tentangnya, dan setiap kalian adalah penanggung jawab, dan masing-masing akan ditanya tentang tanggung jawabnya". [HR al-Bukhâri, 893, dan Muslim, 4828]

Hendaklah setiap muslim merenungkan hadits ini dan mengamalkannya dengan bertanggung jawab atas setiap amanat yang diemban, dan menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Allah pada hari saat harta dan keturunan tiada lagi berguna. Allahumma sallim sallim.

BENTUK KETEGASAN SUAMI
Ketegasan yang dilakukan suami dan kepala keluarga harus melihat kepada manfaat dan permasalahan yang terjadi. Juga jangan sampai berlebihan, sehingga justru berbuah kekerasan. Jadikanlah ketegasan tersebut sebagai obat dalam mencegah munculnya nusyuz dan pelanggaran syari'at dalam rumah tangga. Jangan sampai suami membiarkan istri berbuat pelanggaran agama hanya dengan dalih khawatir melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebab membiarkan istri berbuat maksiat tanpa ada teguran dan tindakan terapinya merupakan perbuatan tercela dan diancam Allah dengan siksaan yang berat. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ وَالدَّيُّوثُ

"Tiga orang yang Allah tidak melihat mereka pada hari Kiamat, (yaitu) orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai lelaki (tomboy) dan ad-dayûts" [HR an-Nasâ`i, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah, 2/229].

Tentang ad-dayyûts ini, telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau ditanya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمَّا مُدْمِنُ الْخَمْرِ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الدَّيُّوْثُ قَالَ الَّذِيْ لاَ يُبَالِيْ مَنْ دَخَلَ عَلَى أَهْلِهِ

"Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, adapun pecandu khamr, kami telah mengerti. Akan tetapi apa yang dimaksud ad-dayûts itu?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Dia ialah (laki-laki) yang tidak memperdulikan siapa yang menemui istrinya". [HR ath-Thabrani dan dishahîhkan Syaikh al-Albaani dalam Shahîh at-Targhib wat-Tarhib, no. 2071 (2/227)]

Lebih tegas lagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَ الدَّيُّوْثُ الَّذِيْ يُقِرُّ فِيْ أَهْلِهِ الْخَبَثَ .

"Dan ad-dayûts, ialah yang membiarkan kemaksiatan dalam keluarganya". [HR Ahmad dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jami' ash-Shaghir, no. 5363]

Melarang istri dari perbuatan dosa dan maksiat termasuk ketegasan suami dan bukan termasuk KDRT, walaupun terkadang nampak mengekang kebebasan istri. Demikian juga termasuk ketegasan suami ialah menghukum istri bila melanggar.

BILAMANA SUAMI MENGHUKUM ISTERI?
Secara faktual, sangat jarang bahkan mungkin tidak ada; sebuah keluarga berjalan tanpa adanya percikan problem atau permasalahan. Oleh karena itu, kita dituntut untuk siap menghadapi berbagai guncangan yang timbul. Tak jarang istri melakukan pelanggaran, sehingga membuat sang suami merasa tidak nyaman, gelisah atau marah. Disinilah Allah menjelaskan bolehnya suami menghukum istri, sebagaimana dalam firman-Nya:

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar" [an-Nisâ`/4:34]

Al-Alûsi berkata: "Ayat di atas dipakai untuk berdalil bahwasanya seorang suami boleh menghukum isteri dan melarangnya keluar rumah, dan bahwasanya seorang isteri wajib taat kepadanya kecuali jika (suami) memerintahnya berbuat maksiat kepada Allah".

Hukuman itu bisa berupa mendiamkannya atau memukulnya dalam batas-batas yang telah diatur Islam. Hal ini dimaksudkan agar isteri kembali kepada jalan yang benar, sebagaimana sebagian rakyat juga tidak menjadi baik kecuali jika hukuman diterapkan.

SALING MENASIHATI, DAN MEMULAI DENGAN HUKUMAN YANG PALING RINGAN
Terjadinya kesalahan merupakan hal yang lumrah terjadi pada anak Adam, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun yang lain. Untuk itu Islam mengajarkan umatnya untuk saling mengingatkan, saling menasihati dan amar ma'ruf nahi munkar.

Saling menasihati sebagai perwujudan bukti cinta yang hakiki. Karenanya orang-orang terdekat ialah yang paling berhak mendapatkannya. Sebuah keluarga muslim harus membiasakan diri dengan sunnah ini.

Jika isteri salah dengan tidak taat kepada suami misalnya, suami diperintahkan untuk menasihatinya terlebih dahulu. Allah Ta'ala berfirman:

"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz, maka nasihatilah mereka, diamkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar" [an-Nisâ`/4:34]

Nusyuz ialah meninggalkan ketaatan kepada suami atau menentangnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan[5]. Syaikh Abdur-Rahman as-Sa'di berkata: "Hendaklah ia menghukumnya dengan hukuman yang paling ringan dahulu, dimulai dengan menasihatinya, yaitu dengan menjelaskan hukum Allah tentang ketaatan-ketaatan kepada suami, juga hukum menentangnya, menyemangatinya untuk taat, dan menakutinya dari maksiat".[6]

MENDIAMKAN ISTERI
Jika isteri kembali kepada ketaatan dengan nasihat saja, maka itulah yang diharapkan, wal-hamdulillah. Jika tidak, suami dibolehkan untuk mendiamkan (hajr) isterinya seperti diperintahkan dalam ayat di atas. Bagi sebagian wanita, model hajr seperti ini bisa sangat tepat untuk mengembalikan mereka kepada ketaatan. Mereka merasa sangat terpukul saat didiamkan suami dan tidak diajak berhubungan. Namun sebaiknya hal tersebut dilakukan di dalam rumah saja, sebagaimana disebutkan dalam hadits Hakam bin Mu'awiyah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ولا يهجُرْ إلا في البيت

"Hendaknya suami tidak mendiamkan isterinya kecuali di rumah". [HR Abu Daawud, an-Nasaa`i dan Ibnu Maajah. Dishahîhkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan Syaikh al-Albâni].

Maksudnya, ialah mendiamkannya, tetapi keduanya tetap satu rumah; suami tidak meninggalkan rumah atau mengusir isterinya ke rumah lain.

Dikisahkan, saat marah kepada salah satu isterinya yang kebetulan mendapat giliran bermalam (mabit), 'Umar bin 'Abdul-'Aziz, tetap bermalam di rumahnya, tetapi ia tidak berbicara dengan isterinya dan tidak menatapnya[7]. Hal ini karena mendiamkan isteri dengan keluar rumah sangat menyakitkan. Seorang isteri bisa merasa sangat sedih ketika ditinggal suaminya untuk suatu keperluan, apalagi jika hal itu dilakukan sebagai hukuman[8]. Kecuali jika diperlukan, boleh bagi suami untuk mendiamkan isterinya dengan keluar rumah, sebagaimana dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Al-Bukhaari berkata:

باب هِجْرَةِ النَّبِىِّ n نِسَاءَهُ فِى غَيْرِ بُيُوتِهِنَّ. ثم روى عن أم سلمة أَنَّ النَّبِىَّ n حَلَفَ لاَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ أَهْلِهِ شَهْرًا.

"Bab bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendiamkan para isteri beliau di luar rumah," kemudian al-Bukhâri meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersumpah untuk tidak masuk ke rumah sebagian isteri beliau selama sebulan". [Shahîh al-Bukhâri, 5202. Lihat al-Maktabah asy-Syamilah]

Suami hendaklah mempertimbangkan dengan matang bentuk dan waktu hajr yang dilakukan dengan melihat besar kecilnya kesalahan, kebutuhan dan manfaat yang diharapkan dari hajr tersebut.

BATASAN MEMUKUL ISTERI
Ayat 34 surat an-Nisâ` di atas menjelaskan bolehnya seorang suami memukul isterinya jika diperlukan. Ummu Kultsum binti Abu Bakr ash-Shiddiq meriwayatkan:

كَانَ الرِّجَالُ نُهُوا عَنْ ضَرْبِ النِّسَاءِ ثُمَّ شَكُوهُنَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ n فَخَلَّى بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ ضَرْبِهِنَّ

"Awalnya para suami dilarang untuk memukul para isteri. Kemudian mereka melaporkan isteri-isteri mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau membolehkan memukul mereka".[HR al-Baihaqi, 7/304]

Maksudnya, ialah pukulan yang ringan. Ketika menafsirkan ayat di atas, al-Bukhaari mengatakan, maksudnya ialah pukulan yang ghairu mubarrih (tidak melukai).

Kemudian al-Bukhâri meriwayatkan dari 'Abdullah bin Zam'ah, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَجْلِدُ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ ، ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِى آخِرِ الْيَوْمِ

"Janganlah seorang di antara kalian mencambuk isterinya sebagaimana mencambuk budak, kemudian berhubungan dengannya di akhir hari" [Shahîh al-Bukhâri, 5204. Lihat al-Maktabah asy-Syamilah]

Hendaklah pukulan juga tidak dilakukan di wajah. Dalam hadits tentang hak-hak isteri atas suami, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ولا يَضرِبِ الوَجْهَ ، وَلاَ يُقبِّحْ

"Janganlah suami memukul wajah, dan jangan mengatakan qabbahakillah (semoga Allah menjadikanmu jelek)" [HR Abu Dawud, an-Nasâi dan Ibnu Majah, dishahîhkan Ibnu Hibban, al-Hakim dan Syaikh al-Albâni]

CONTOH-CONTOH KDRT
Dari sini jelas dapat dibedakan antara ketegasan dan hukuman dengan KDRT, sebab KDRT merupakan tindakan yang berlebihan dari ukuran dan ketetapan syari'at. Oleh karena itu hendaklah dilihat kembali semua kasus KDRT yang ada, menimbangknya dengan syari'at Islam yang memiliki kelengkapan dan keindahan, sehingga tidak salah dalam memutuskan dan menyimpulkannya. Terlebih pada zaman jauhnya kaum muslimin dari agamanya dan isu-isu kesamaan gender sedang dipropagandakan pada semua sendi untuk semakin menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan beberapa contoh yang bisa dikategorikan sebagai KDRT, antara lain:

1. Menjadikan pukulan atau hajr sebagai jalan pertama dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.
2. Mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, seperti qabbahakillah (semoga Allah menjadikanmu jelek).
3. Mendiamkan isteri di luar rumah tanpa keperluan.
4. Memukul wajah.
5. Memukul di luar batas kewajaran.

Ingatlah syari'at islam tidak membolehkan dan tidak mensyariatkan kecuali untuk kebaikan manusia seluruhnya, dan tidak melarang kecuali perkara yang merusak dan mengganggu manusia. Karena itu, marilah kembali merujuk kepada Islam dalam melihat dan mengamalkan semua amalan keseharian kita.

Sebagai penutup kita perlu memperhatikan dua hal dibawah ini.

Pertama, Sabar Menghadapi Isteri.
Bahtera rumah tangga tidak dapat berjalan dengan baik jika pasangan suami isteri tidak memiliki kesabaran di antara mereka. Hal ini juga diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya:

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak" [an-Nisâ`/4:19].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ

"Janganlah seorang mukmin membenci mukminah. Jika ia tidak suka dengan salah satu perangainya, tentu ia suka perangai yang lainnya" [Muslim, 2672]

Tidak semestinya suami menjadikan setiap kesalahan istri sebagai sebab untuk melampiaskan amarah. Hendaklah kita mencontoh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang oleh isteri beliau, 'Aisyah Radhiyallahu 'anha disifati sebagai berikut:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , sama sekali tidak pernah memukul sesuatu dengan tangan beliau, tidak juga pernah memukul wanita atau pembantu, kecuali dalam jihad fi sabilillah. Dan tidaklah beliau pernah disakiti kemudian membalas dendam; tetapi jika salah satu larangan Allah dilanggar, beliau membalas karena Allah" [HR Muslim, 2328]

Al-Alusi rahimahullah berkata: "Dan jelas, bahwasanya menahan diri dan sabar terhadap isteri lebih baik daripada memukul mereka, kecuali jika ada alasan yang kuat".[9]

Kedua, Islam Menghormati dan Memuliakan Wanita.
Keterangan di atas menunjukkan bahwa Islam melarang KDRT, kecuali jika diperlukan untuk mewujudkan maslahat yang lebih besar, dan dengan batasan-batasan yang ketat. Hal seperti ini, kita istilahkan dengan ketegasan. Islam memberikan kedudukan sangat mulia kepada wanita. Banyak hal yang menunjukkan penghormatan tersebut.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan orang yang paling baik dalam umat ini ialah yang paling baik memperlakukan isterinya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya; dan orang-orang terbaik di antara kalian ialah yang paling baik akhlaknya terhadap isteri mereka" [HR at-Tirmidzi, 1195. Dishahihkan Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahîhah, 284]

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَلَنْ يَضْرِبَ خِيَارُكُمْ

"Dan orang-orang terbaik di antara kalian tidak akan memukul" [HR al-Baihaqi, 7/304]

Salah seorang rawi hadits ini mengatakan:

وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَيْرَهُمْ كَانَ لاَ يَضْرِبُ

"Dan Rasulullah adalah yang terbaik di antara mereka, beliau tidak memukul". [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, 5/223]

Hadits-hadits ini hendaklah menjadi pendorong munculnya rasa takut pada diri seorang muslim. Komitmen sebagian muslimin terhadap pokok-pokok ajaran Ahlus-Sunnah terkadang tidak diiringi dengan akhlak yang baik, termasuk kepada keluarga, khususnya isteri. KDRT masih sering terdengar dari rumah kita. Padahal Nabi n menjadikan hal ini sebagai parameter kedudukan kita di sisi Allah. Yang tidak berakhlak baik kepada isteri bukanlah golongan terbaik dalam umat ini.

Semoga Allah mengilhami kita untuk terus memperbaiki diri. Wallahu a'lam.

Maraaji`:
- Al-Jâmi' li Ahkâmil Qur'ân, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, tahqîq Abdurrazzaq al-Mahdi, Maktabah ar-Rusyd, 1420 H.
- Durus Yaumiyyah.
- Fathul-Bâri, Ibnu Hajar al-'Asqalâni, Tahqîq: Abu Qutaibah al-Fariyabi, Dar Thaybah,1426 H.
- Nahwa Akhlaqissalaf fi Dhauil Kitab was-Sunnah, Salim bin 'Id al-Hilali.
- Rûhul Ma'âni fi Tafsîril Qur'ânil-'Azhîm was-Sab'il Matsâni, Syihâbuddîn al-Alusi, Dârul-Kutub al-'Ilmiyyah.
- Taisirul-Karimir-Rahman, Abdur-Rahman as-Sa'di, Muassasah ar-Risalah.
- Al-Maktabah asy-Syamilah, Divisi Rekaman Masjid Nabawi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Rûhul Ma'âni, 3/23.
[2]. Al-Jâmi' li Ahkâmil-Qur`ân, 5/163.
[3]. Ibnu Hajar berkata: "Yakni puasa selain Ramadhan, atau puasa wajib diluar Ramadhan jika waktunya sempit". Lihat Fathul-Bari, 11/624.
[4]. Dalam sebagian riwayat disebutkan secara tegas "" فله نصف أجره . Lihat Fathul-Bari, 11/629.
[5]. Lihat Taisirul-Karimir-Rahman, hlm. 177.
[6]. Ibid.
[7]. 'Umdatul-Qari, Badruddin al-'Aini.
[8]. Ibid.
[9]. Rûhul-Ma'ani, 3/23.

Rabu, 07 Juli 2010

Agar Futur Tidak Menghantui

http://www.dakwatuna.com/2009/agar-futur-tidak-menghantui/
Fiqih Dakwah
29/4/2009 | 05 Jumadil Awal 1430 H | Hits: 9.032
Oleh: Mahfudz Siddiq, MSi.
Penyebab Futur
Pertama, berlebihan dalam din (Bersikap keras dan berlebihan dalam beragama)
Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. (Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang diperbolehkan)
Ketiga, memisahkan diri dari kebersamaan atau jamaah (Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari organisasi atau berjamaah)
bergemingnya hidup sendiri.”
Keempat, sedikit mengingat akhirat (Lemah dalam mengingat kematian dan kehidupan akhirat)
Kelima, melalaikan amalan siang dan malam (Tidak memiliki komitmen yang baik dalam mengamalkan aktivitas ’ubudiyah harian)
Keenam, masuknya barang haram ke dalam perut (Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram)
Ketujuh, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. (Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dakwah)
Kedelapan, bersahabat dengan orang-orang yang lemah (Berteman dengan orang-orang yang buruk dan bersemangat rendah)
Kesembilan, spontanitas dalam beramal (Tidak ada perencanaan yang baik dalam beramal, baik dalam skala individu atau fardi maupun komunitas atau jama’i)
Kesepuluh, jatuh dalam kemaksiatan (Meremehkan dosa dan maksiat)
Cara Mengobati Kelesuan
Saudaraku…
Untuk mengobati penyakit futur ini, beberapa ulama memberikan beberapa resep.
Pertama, jauhi kemaksiatan
Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam
Ketiga, mengintai waktu-waktu yang baik
Keempat, menjauhi hal-hal yang berlebihan.
Kelima, melazimi Jamaah
Keenam, mengenal kendala yang akan menghadang
Ketujuh, teliti dan sistemik dalam kerja.
Kedelapan, memilih teman yang shalih
Kesembilan, menghibur diri dengan hal yang mubah
Kesepuluh, mengingat mati, surga dan neraka

Jumat, 23 April 2010

Cintaku pantas Kau ragukan

Tak ada angka yang pasti yang mampu menunjukkan seberapa besar CINTA yang kita miliki
---
Aku menyadari sepenuhnya, untuk membuktikan seberapa besar CINTA itu, bukan hal yang mudah bagiku
---
CINTA itu masih ada,tapi pantas untuk diragukan


Hmmmm sekedar perbandingan untuk meningkatkan motivasi diri sendiri

1. Saat jatuh cinta , pastinya intensif melakukan PEDHEKATE
    Kalau bilang cinta Allah, usaha PEDHEKATE kok cuman asal asalan
2. Setelah jadian, kalau bisa nggak cuman tiap sabtu aja ngapel,
    kalau perlu setiap malam juga ikhlas
    kalau bilang cinta kepada Allah, sholat lima waktu kok empot empotan,
    ke masjid juga seminggu sekali (kalo sempet)
3. Saat si-dia telephone, minta datang kerumah,
    tanpa ba-bu lagi langsung tancaaap
    Giliran panggilan sholat, entar dulu ah, masih nanggung.....
4. Saat si-dia ulang tahun, naik kelas, bahkan nggak ada even apapun,
    maunya ngasih sesuatu yang disenangi si -dia
    Waktu harus bayar zakat, atau ngisi kotak infak, mesti nyari dulu
    yang dicari uang dengan nilai  terkecil di dompet
Setiap saat bayangan si-dia selalu ada
    kalau ingat Allah setiap saat, nggak mungkin lah mo nyontek, mo korupsi,
    atau melakukan hal hal yang nggak baik

Tambahan dari temen temen nih, daripada entar comment-nya dihapus
Yanti menambahkan
saat menerima sesuatu dari si dia, rasanya gak berenti2 menatap dan menganggap ini adalah hal terindah, SAAT menerima segala berkah dari Allah SWT ngucap syukur kok sambil lewat aja...

Adik kelas menambahkan
Saat rayuan dilancarkan, semua pujian diucapkan, tapi saat waktu terasa lapang, dzikir untuk Allah pun jarang dilakukan...

Saat si dia mulai berusaha meninggalkan, jadi senewen dan maunya uring-uringan, tapi di saat Allah mulai meninggalkan, tak ada rasa apapun yang terlintas...

Pak Yitno menambahkan
Di saat terima bonus dan kenaikan gaji lupa ingatan nggak bayar zakat dan memberikan ke anak yatim, untuk nonton,makan-makan jalan terus



ada yang mau nambahin lagi....?? monggo....

Jumat, 16 April 2010

Semoga tidak terlupakan

Rating:★★★★★
Category:Other
Suatu ketika Muhammad s.a.w, ditanya " Ya Rasulullah s.a.w, berapakali kita memafkan kesalahan pelayan kita?"
Ia terdiam. Sekali lagi sang penanya mengajukan pertanyaan itu, dan Muhammad s.a.w tidak memberikan jawaban.
Tetapi ketika orang itu bertanya untuk yang ketiga kali, ia berkata : Maafkan para pelayanmu 70 kali dalam sehari"

--Pengendalian Diri
Siapa yang mampu menahan kemarahannya, padahal ia memiliki kemampuan untuk memperlihatkannya, Tuhan akan memberi dia suatu penghargaan besar

Kamis, 11 Februari 2010

Recharge

Rating:★★★★★
Category:Other
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Nya kepada mereka, jadi bertambah (kuat) iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Al-Anfaal{8}: 2)

Selasa, 29 Desember 2009

Memotivasi Diri Disaat Futur

Rating:★★★★★
Category:Other

Memotivasi Diri Disaat Futur

Senin, 23/03/2009 15:44 WIB

Assalamu'alaikum pak Ustadz yg dirahmati ALLAH SWT,

Saya ingin berkonsultasi, bagaimana caranya saya bisa memotivasi diri saya disaat sedang mengalami futur iman? Sebab saya tidak memungkiri bahwa kondisi iman saya terkadang turun. Saya takut apabila futur ini didiamkan maka tidak mustahil saya malah akan meninggalkan amalan-amalan wajib saya seperti sholat dan akan berdosalah saya. Dan bagaimana kiat Nabi Muhammad SAW dalam mengatasi futur iman?

Demikian pak Ustadz, saya mohon jawabannya.

Jazakallah Khoir

Tom's

Jawaban

Wa’alaikum salam wr. wb.
Saudaraku Tommy yang dicintai Allah SWT, bagaimana kiat nabi Muhammad saw dalam mengatasi futur (turun) iman, sehingga kita juga perlu mencontohnya jika mengalami futur iman? Beberapa hal perlu dicatat disini :
1. Nabi Muhammad saw pernah futur, namun beliau cepat bangkit dari futurnya. Dalam surat Al Baqaroh ayat 214, Allah SWT berfirman : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. Tingkat futur Rasulullah dan para sahabat sampai pada mempertanyakan datangnya pertolongan Allah yang tidak kunjung datang. Lalu Allah menjawab bahwa pertolongan Allah itu pasti datang, sehingga jawaba Allah tersebut membangkitkan kembali semangat beliau untuk berjuang. 


2. Jika futur, Nabi Muhammad justru banyak beribadah. Bukan sebaliknya malah meninggalkan ibadah seperti yang dilakukan sebagian kaum muslimin saat ini. Menurut sebagian ulama, jika mengalami cobaan hidup yang melemahkan semangatnya (futur), nabi Muhammad saw justru memperbanyak tilawah Al Qur’an dan sholat sunnah. Bahkan begitu seringnya Nabi Muhammad saw sholat, sehingga beliau akan sholat sunnah jika ada kesempatan (dinamakan sholat sunnah Mutlaq). Beliau juga banyak membaca berdo’a jika mengalami cobaan dalam hidupnya. Salah satu doa beliau tercermin dalam surah Al Baqaroh ayat 214 di atas. 


3. Nabi Muhammad saw jarang futur karena beliau asyik berda’wah. Orang yang sibuk dan rutin berda’wah juga akan sibuk dan rutin menasehati dirinya sendiri. Nasehat adalah cara untuk menghindari futur. Jika kita jarang futur, maka kita akan lebih produktif dan maju dibandingkan orang yang lebih sering futur dan lemah semangat. Oleh sebab itu, Allah menyebut ciri umat Islam terbaik dengan “banyak menasehati (amar ma’ruf nahi mungkar)”. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” QS. 3 : 110. Jadi jika kita ingin terhindar dari futur, aktiflah berda’wah atau hiduplah dalam lingkungan da’wah (lingkungan yang banyak menasehati satu sama lain). Jangan menyendiri dan jangan banyak bergaul dengan lingkungan yang induvidualistis dan hedonis. 


Demikian kiat Nabi Muhammad saw untuk terhindar dari futur berkepanjangan dan demikian pula yang harus kita contoh. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang terhindar dari futur dan selalu bersemangat dalam hidup yang indah ini!
Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

Sumber : www.eramuslim.com